Laki-laki yang hampir seperdua abad, tampan dan bertangan kasar.
Dia adalah Ayah saya, yang kalau dirumah lebih akrab saya panggil (papa; dengan sedikit penekanan diujung hurufnya, papa')
Tanggungjawab dan kesabaran, membuat saya selalu punya stok cerita tentangnya.
Bagi saya, tersenyumnya ia adalah sebuah kesempurnaan tampan seorang laki-laki.
Tangan kasar adalah bukti tanggungjawabnya selama ini dalam memberikan semua yang terbaik bagi "keluarga".
Laki-laki memang jarang mengeluh, jarang menampakkan perasaan mereka lewat ekspresi, dan begitulah ia laki-laki tampan yag ku kenal sejak dunia ini terlihat dan menyambut tangisku.
Tak ada ekspresi berlebihan darinya sebagai seorang ayah, atau bahkan sekedar menyampaikan "bapak sayang kamu", tidak! memang tidak dengan ucapannya.
Tapi ia adalah laki-laki sejati yang mengungkapkan sayang dengan perbuatan, bagiku merasa aman dan terlindungi adalah sayangnya yang luarbiasa. Ia membuktikan sayangnya dengan "penjagaan".
Papa' adalah laki-laki yang senang belajar, terbukti sewaktu pulang lebaran Idul Fitri beberapa hari setelahnya ia sibuk membuka lembaran Al-Qur'an terjemahan, belajarnya ia adalah sebuah kesyukuran yang senantiasa terhatur kepada Pemilik Langit dan Bumi.
Katanya "Cari laki-laki yang tidak suka marah, dan mau menerima kita"
ini wejangan terakhir saat beberapa kali duduk dan berbincang ala-ala bapak dan anak.
ada banyak cerita haru, bahagia dan kadang-kadang menegangkan.
Ayah adalah laki-laki tangguh dan bertanggungjawab, ia bukan laki-laki yang tak pernah marah.
Marahnya adalah sebuah kewajaran, saat anak perempuan pertamanya pulang tengah malam atau berkelahi dengan adiknya.
Selamat Hari Ayah.
Komentar
Posting Komentar