Langsung ke konten utama

Foto Essay : "Nur Rahmawati, Sang Ratu Sepatu"


 1.


 Siang telah berganti malam namun Nur belum beranjak dari tempatnya, ia masih sibuk dengan jahitan sepatu yang harus diselesaikannya saat itu juga.

 
2.

Tangannya masih sangat kuat, meski usianya tak lagi muda. Dengan peralatan seadanya ia tetap berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya.


3.

Bagi ibu lima anak ini, hidup ditanah rantau memang butuh perjuangan dan perjuangan itu harus dilalui dengan sabar.



4.

Beberapa sepatu menunggu untuk diselesaikan malam ini. Setelah selesai, pemiliknya akan datang menjemput sesuai waktu yang telah disepakati.



5.

Bekerja siang dan malam Nur tak sendirian, ia selalu ditemani oleh keponakannya.



6.

Keahlian Nur tidak hanya sebatas penjahit sepatu dan sandal saja, tapi ia juga sangat mahir memperbaiki tas.



7.

Benang-benang yang digunakan untuk menjahit sengaja ia ulur didepannya, agar lebih mudah diambill saat dibutuhkan.



8.

Tangannya masih sibuk menyelesaikan jahitan tas, sementara didepannya antrian sepatu dan sandal masih setia menunggu untuk diselesasikan.



9.

Saat orderan sepatu selesai dijahit, pemiliknya pun datang untuk mengambil.



10.

Jahitan sepatu yang sudah selesai, kemudian dbungkus dengan plastik.



11.

Nur adalah sosok pejuang perempuan yang tangguh, ditengah persaingan yang semakin ketat dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat Nur tetap eksis dengan pekerjaannya sebagai Ratu Sepatu.



12.

Ketika ada yang meminta jahitannya diselesaikan saat itu juga, Nur selalu siap untuk menolong meski kadang ia sampai lupan makan. Jahitan yang telah selesai kemudian diberikan kepada pemiliknya.


13.

Sebagai seorang perantau yang berasal dari tanah Daeng Sulawesi Selatan, Nur harus 
berjuang agar tetap bisa bertahan hidup bersama keluarganya meski hanya dengan menjadi seorang penjahit sepatu.




Pekerjaan sebagai tukang jahit sepatu memang cukup lumrah, pasalnya hampir diseluruh titik kota ada yang menawarkan jasa untuk menjahit sepatu dan sandalDikota Palu menurut pengamatan saya pribadi pekerjaan tersebut hampir seluruhnya di kerjakan oleh para lelaki. Namun, berbeda dengan dengan Nur Rahmawati yang memiliki tempat khusus di pinggiran jembatan Jln. Emysaelan, Kota Palu. Ibu lima anak ini telah lama menggeluti pekerjaan sebagai tukang jahit sepatu. Keahlian yang dimiliki oleh Ibu Nur, tentunya tidak didapatkan dengan cara yang instan perlu banyak latihan agar bisa memberikan hasil jahitan yang maksimal. Sosok ibu Nur mengingatkan saya tentang peringatan hari Pahlawan, ibu Nur adalah pahlawan bagi keluarganya, beliau dengan ikhlas mengabdikan diri untuk keluarga dan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap hari ibu Nur biasanya mulai bekerja pada pukul 7 pagi dan berhenti menerima orderan pada jam 11 malam. Meski begitu biasanya ibu Nur tetap melanjutkan pekerjaan untuk menyelesaikan pesanan para konsumennya hingga shubuh. Karena asyik dengan pekerjaannya tak jarang beliau sampai lupa untuk makan. Ibu Nur adalah sosok ibu yang sangat tangguh dengan pekerjaan yang tidak biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riuh-riuh Kampanye

Caption : Paska Kampanye masih saja terlihat poster-poster para calon kandidat pilkada disepanjang Jln. Yos Sudarso. hal ini sudah merupakan sebuah pelanggaran karena setiap atribut kampanye harus dibersihkan sehari menjelang pilkada yang berlangsung sejak tgl 9 desember 2015

Tentang Ayah

Laki-laki yang hampir seperdua abad, tampan dan bertangan kasar. Dia adalah Ayah saya, yang kalau dirumah lebih akrab saya panggil (papa; dengan sedikit penekanan diujung hurufnya, papa') Tanggungjawab dan kesabaran, membuat saya selalu punya stok cerita tentangnya. Fatherman is good man, meski tak seperti superman atau batman. Papa' tidak punya stok jubah untuk terbang mengangkasa atau baju ketat hitam dan topeng khas untuk menyembunyikan segala hal yang mudah saja terbaca lewat ekspresi wajahnya. Bagi saya, tersenyumnya ia adalah sebuah kesempurnaan tampan seorang laki-laki. Tangan kasar adalah bukti tanggungjawabnya selama ini dalam memberikan semua yang terbaik bagi "keluarga". Laki-laki memang jarang mengeluh, jarang menampakkan perasaan mereka lewat ekspresi, dan begitulah ia laki-laki tampan yag ku kenal sejak dunia ini terlihat dan menyambut tangisku. Tak ada ekspresi berlebihan darinya sebagai seorang ayah, atau bahkan sekedar menyampaikan "bapak ...